Senin, 09 Februari 2015

Solusi dari Masalah Banjir





Banjir adalah salah satu masalah klasik di Indonesia. Hampir setiap musim penghujan banjir melanda sejumlah daerah di negeri ini. Banjir terjadi karena debit air melebihi penampungnya sehingga air harus meluap dan merendam daerah sekitarnya. Bicara banjir tentu yang fenomenal adalah ibukota negeri ini, DKI Jakarta. Istana presiden pun sempat dikunjungi banjir di era presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Kota metropolitan ini hampir tidak pernah absen dari yang namanya banjir setiap tahunnya. Dari era penjajahan Belanda sampai era Jokowi-JK. Sikap warga ibukota yang terkesan ogah membuang sampah pada tempatnya ini menjadi penyebab utamanya. Saya ambil contoh yang mudah, saat perayaan pergantian tahun 2015 yang diselenggarakan secara akbar di ibukota ini, hampir tidak ada orang yang menyimpan sampahnya dalam tas mereka. “Ga ada tempat sampah, lagian juga paling besok dibersihin sama petugasnya” begitu katanya. Saya akui, tempat sampah di ibukota jarang ditemui, namun bukan berarti tidak ada, kalau memang ingin lingkungannya bersih bukankah bisa menyimpan sejenak sampah itu kemudian membuangnya saat menemukan tempat sampah?

Kembali kepada banjir, daerah di ibukota yang paling rawan banjir adalah Jakarta utara. Wilayah yang satu ini terletak paling utara Jakarta dan dekat dengan pantai, wilayah yang seharusnya menjadi rawa bermetamorfosis menjadi pemukiman warga. Bagaimana banjir tidak melanda? Yang harusnya menjadi daerah penyerap air saat hujan tiba, malah tidak mampu menerima sedikit gerimis saja. Dan saat banjir melanda, “Pemerintah gimana sih? Nyelesain banjir aja ga bisa!”. Pak, bu, ini banjir yang buat siapa?

Menyalahkan orang lain memang bakat kita, inilah kenapa ada pepatah “semut di seberang jalan terlihat, gajah di pelupuk mata tak terlihat”. Kalau saja ada kesadaran diri, insyaallah banjir tidak lagi melanda ibukota. Lalu solusinya? Solusi menanggulangi banjir, ini berarti tentang apa yang harus kita lakukan saat banjir melanda negeri kita tercinta.

Pertama, tentulah menyelamatkan diri dan keluarga, jika ada barang-barang yang berharga bisa pula dibawa, selama tidak membuat kita kesulitan berjalan di tengah banjir. Kemudian mengungsi ke daerah yang lebih tinggi dan tidak terkena banjir.
Kedua, bertransmigrasi ke pulau seberang, mari kita isi kekosongannya. Kalimantan itu pulau yang terancam direbut Malaysia. Sebagian besar penduduk Kalimantan utara berpindah kewarganegaraan menjadi WNM. Apa kalian rela? Ini yang disebut sambil menyelam minum air. Bosan kebanjiran? Harga tanah di Kalimantan relatif lebih murah, bebas gempa, dan sangat terasa sensasi pulau tropisnya. Di samping itu, kita juga bisa menjaga aset negara yang satu ini. Saya sendiri pun ada rencana untuk bermigrasi ke sana.
Ketiga, pasrahkan saja, toh nantinya saat matahari muncul dari timur perlahan air akan surut.

Jangan terlalu kaku, kalau memang Jakarta adalah kampung halaman kalian, lalu kalian harus pindah ke Kalimantan, bukan berarti kalian tidak bisa kembali lagi ke Jakarta. Lagi pula ini masih di Indonesia. Jika tidak mau di Kalimantan masih ada Papua, Nusa tenggara, Sulawesi dan pulau-pulau lainnya yang masih butuh penghuni. Indonesia ini bukan hanya Jakarta, Jawa, Bali, dan Sumatra.


Jika kalian takut dengan apa yang namanya kesulitan akses, maka kalian bisa gunakan apa yang namanya “ilmu”. Dimana ada kemauan di situ ada jalan. Untuk biaya, kalian bisa meminta bantuan kepada investor, tunjukkan bakat bisnismu. Dengan begitu banjir teratasi, Pulau-pulau sepi terlindungi, dan negeri ini bisa menjadi pesaingnya Amerika Serikat.

Mencegah dan Memberantas Korupsi

Wallpaper antikorupsi - ACCH

Mungkin sebagian dari kita akan berpikir bahwa memberantas korupsi adalah tugas dari lembaga pemerintah bernama KPK. Memang ini negara siapa? Apa hanya KPK yang menjadi warga negara Indonesia? Korupsi, dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat, boleh saya katakan seperti itu? Kenapa? Anggota dewan itu juga rakyat lho. Pada artikel sebelumnya saya pernah membuat judul “Mencontek dan Korupsi bukan Dua Hal yang Berbeda”. Lalu bagaimana cara kita memberantas korupsi itu?

Kita bisa melakukannya dengan pengawasan terhadap pejabat pemerintah atau bahkan orang-orang sekitar yang mencurigakan. Seperti seorang pejabat yang berpenghasilan standar punya rumah mewah dan istri berlimpah, yang seperti ini harus diwaspadai, jika sangat tidak wajar bolehlah melapor pada pihak yang berwajib dalam hal ini KPK misalnya. 

Namun tentulah mencegah lebih baik daripada mengobati, mencegah dimulai dari diri kita yang berlumuran dosa ini. Bagaimana caranya? Silahkan disimak...

1.       Beriman dan mendekatkan diri pada Tuhan, memohon perlindungan pada-Nya. Kalian pernah dengar apa kata Tuan Krab? “Uang bicara”, begitu katanya. Kita tidak tau apa yang akan terjadi jika kita dibutakan oleh harta, jabatan dan urusan duniawi.
2.       Bersikap jujur, hei warga negara Indonesia yang sedang mengalami krisis akhlak. Jika negeri ini bisa bicara mungkin ia akan menangis sampai Jakarta benar-benar tenggelam. Generasi muda pembohong, pembuat masalah, tidak beradab. Apa harus kita menjadi seperti itu? Istighfar saudaraku.
3.       Ingat mati, manusia hidup bukan untuk mati, namun manusia hidup menunggu mati. Itu prinsip saya. Percuma harta melimpah kalau besok saya mati, toh harta tak dibawa mati. Meskipun harta itu disandingkan dengan jasad, apa mungkin roh dalam tubuh ini membawanya pergi bersama? Jawablah dalam hatimu wahai anak muda.


Uang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang, saya mengakui itu, tapi bukan berarti kita bisa menghalalkan segala cara demi sesuatu bernama uang itu. Ingat selalu tiga hal diatas, insyaallah kita tidak akan menjadi tahanan KPK dimasa kita menjadi pengusaha dan penguasa. Bukan maksud saya untuk menggurui, namun tidak ada salahnya kita saling mengingatkan. Bukankah kita mencintai negeri ini dan sangat menyayangkan jika negeri ini hancur hanya karena manusia berjiwa setan yang disebut koruptor itu? Ini cara saya, mohon maafkan apabila menyinggung perasaan kalian. 

Narrative & Recount Text

NARRATIVE TEXT : SNOW WHITE

Once upon a time there lived a little girl named Snow White. She lived with her aunt and uncle because her parents were dead.
One day she heard her uncle and aunt talking about leaving Snow White in the castle because they both wanted to go to America and they didnt have enough money to take Snow White.
Snow White didnt want her uncle and aunt to do this so she decided it would be best if she ran away. The next morning she ran away from home when her aunt and uncle were having breakfast. She ran away into the woods.
Then she saw a little cottage. She knocked but no one answered so she went inside and fell asleep.
Meanwhile, the seven dwarfs were coming home from work. They went inside. There they found Snow White sleeping. Then Snow White woke up. She saw the dwarfs. The dwarfs said, Whats your name? Snow White said, My name is Snow White.
Doc, one of the dwarfs said, If you wish, you may live here with us. Snow White said, Oh could I? Thank you. Then Snow White told the dwarfs the whole story and Snow White and the seven dwarfs lived happily ever after.


NARRATIVE TEXT : SANGKURIANG

Long time ago in West Java, lived a beautiful girl named Dayang Sumbi. She was also smart and clever. Her beauty and intelligence made a prince from the heavenly kingdom of Kahyangan desire her as his wife. The prince asked permission from his father to marry Dayang Sumbi. But his father approved on one condition, when they had a child, the prince would transform into a dog. The prince accepted the condition.
They get married and lived happily in the woods until Dayang Sumbi gave birth to a baby boy. The prince then changed into a dog named Tumang. Their son is named Sangkuriang. He was very smart and handsome like his father. One day, when he was hunting, Sangkuriang accidentally killed Tumang. His arrow missed the deer he was targeting and hit Tumang instead. He went home and tells her mother about the dog. Dayang Sumbi was appalled. Driven by sadness and anger, she grabbed a weaving tool and hit Sangkuriangs head with it. Dayang Sumbi was so sad, she didn’t pay any attention to Sangkuriang and started to cry.
Sangkuriang feel sad and also confused. Sangkuriang then decided to go away from their home and went on a journey. In the morning, Dayang Sumbi finally stopped crying. She started to feel better, so she went to find Sangkuriang. But her son was no where to be found. She looked everywhere but still couldnt find him. Finally, she went home with nothing. She was exhausted. She fell asleep, and in her dream, she meets her husband. Dayang Sumbi, dont be sad. Go look for my body in the woods and get the heart. Soak it with water, and use the water to bathe, and you will look young forever, said the prince in her dream. After bathing with the water used to soak the dogs heart, Dayang Sumbi looked more beautiful and even younger.
And time passed by. Sangkuriang on his journey stopped at a village and met and fell in love with a beautiful girl.He didnt realize that the village was his homeland and the beautiful girl was his own mother, Dayang Sumbi. Their love grew naturally and he asked the girl to marry him. One day, Sangkuriang was going on a hunt. He asked Dayang Sumbi to fix the turban on his head. Dayang Sumbi was startled when she saw a scar on his head at the same place where she, years ago, hit Sangkuriang on the head.
After the young man left, Dayang Sumbi prayed for guidance. After praying, she became convinced that the young man was indeed her missing son. She realized that she had to do something to prevent Sangkuriang from marrying her. But she did not wish to disappoint him by cancelling the wedding. So, although she agreed to marry Sangkuriang, she would do so only on the condition that he provides her with a lake and built a beautiful boat, all in one night.
Sangkuriang accepted this condition without a doubt. He had spent his youth studying magical arts. After the sun went down, Sangkuriang went to the hill. Then he called a group of genie to build a dam around Citarum River. Then, he commands the genies to cut down trees and build a boat. A few moments before dawn, Sangkuriang and his genie servants almost finished the boat.
Dayang Sumbi, who had been spying on him, realised that Sangkuriang would fulfill the condition she had set. Dayang Sumbi immediately woke all the women in the village and asked them to wave a long red scarf. All the women in the village were waving red scarf, making it look as if dawn was breaking. Deceived by false dawn, the cock crowed and farmers rose for the new day.
Sangkuriangs genie servants immediately dropped their work and ran for cover from the sun, which they feared. Sangkuriang grew furious. With all his anger, he kicked the unfinished boat. The boat flew and landed on a valley. The boat then became a mountain, called Mount Tangkuban Perahu (Tangkuban means upturned or upside down, and Perahu means boat). With his power, he destroyed the dam. The water drained from the lake becoming a wide plain and nowadays became a city called Bandung (from the word Bendung, which means Dam).

  
 RECOUNT TEXT : MAJAPAHIT KINGDOM

The Majapahit kingdom centered in East Java, Indonesia, established circa 1293 to 1500 AD. This kingdom reached its peak highway into empire that controls a wide area in the archipelago during the reign of Hayam Wuruk, who ruled from 1350 to 1389.
Majapahit kingdom is the kingdom of Hindu-Buddhist past controls the archipelago and is considered as one of the greatest country in the history of Indonesia. Extends his power in Java, Sumatra, the Malay Peninsula, Borneo, to eastern Indonesia, although its territory is disputed.
Prior to the work of Majapahit, Singhasari have to first be based Royal rulers in Java. The exact date is used as the date of birth of the Majapahit kingdom was Raden Wijaya coronation as king, which is the 15th of the month of Kartika in 1215 saka which coincides with the November 10, 1293. He was named the official name Kertarajasa Jayawardhana.
According Nagarakretagama Canto XIII-XV, Majapahit area includes Sumatra, the Malay Peninsula, Borneo, Sulawesi, the islands of Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapore) and some islands of the Philippines. This source shows the widest limits once the heyday of the Majapahit Empire.

Jumat, 18 Juli 2014

Apa sebab Finlandia menjadi negara dengan Sistem Pendidikan TERBAIK?

Peta Finlandia

Sistem pendidikan Finlandia adalah yang terbaik di dunia. Rekor prestasi belajar siswa yang terbaik di negara-negara OECD dan di dunia dalam membaca, matematika, dan sains dicapai para siswa Finlandia dalam tes PISA.  Amerika Serikat dan Eropa, seluruh dunia gempar.

Untuk tiap bayi yang lahir kepada keluarganya diberi maternity packageyang berisi 3 buku bacaan untuk ibu, ayah, dan bayi itu sendiri. Alasannya, PAUD adalah tahap belajar pertama dan paling kritis dalam belajar sepanjang hayat. Sebesar 90% pertumbuhan otak terjadi pada usia balita dan 85% brain paths berkembang sebelum anak masuk SD (7 tahun).


Kegemaran membaca aktif didorong. Finlandia menerbitkan lebih banyak buku anak-anak daripada negeri mana pun di dunia. Guru diberi kebebasan melaksanakan kurikulum pemerintah, bebas memilih metode dan buku teks. Stasiun TV menyiarkan program berbahasa asing dengan teks terjemahan dalam bahasa Finish sehingga anak-anak bahkan membaca waktu nonton TV.

Pendidikan di sekolah berlangsung rileks dan masuk kelas siswa harus melepas sepatu, hanya berkaus kaki. Belajar aktif diterapkan guru yang semuanya tamatan S2 dan dipilih dari the best ten lulusan universitas. Orang merasa lebih terhormat jadi guru daripada jadi dokter atau insinyur. Frekuensi tes benar-benar dikurangi. Ujian nasional hanyalah Matriculation Examination  untuk masuk PT. Sekolah swasta mendapatkan dana sama besar dengan dana untuk sekolah negeri.

Sebesar 25% kenaikan pendapatan nasional Finlandia disumbangkan oleh meningkatnya mutu pendidikan. Dari negeri agraris yang tak terkenal kini Finlandia maju di bidang teknologi. Produk HP Nokia misalnya merajai pasar HP dunia. Itulah keajaiban pendidikan Finlandia.

Ukuran kemajuan negara 2

Kemajuan sebuah bangsa lebih ditentukan oleh karakter penduduknya dan karakter penduduk dibina lewat pendidikan yang bermutu dan relevan.


Bagaimana Indonesia?
Ada yang berpendapat,  keunggulan mutu pendidikan Finlandia itu tidak mengherankan karena negeri ini amat kecil dengan jumlah penduduk sekitar 5 juta jiwa,  penduduknya homogen,  dan negaranya sudah eksis sekian ratus tahun. Sebaliknya,  penduduk Indonesia lebih dari 220 juta jiwa, amat majemuk terdiri dari beragam suku, agama, budaya, dan latar belakang sosial.  Indonesia baru merdeka 66 tahun.

Pendapat senada dikemukakan oleh tokoh-tokoh dan pemerhati pendidikan Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jepang, dan negara-negara lain dibandingkan dengan negaranya. Yang paling malu AS karena unit cost anggaran pendidikannya jauh melebihi Finlandia tapi siswanya mencapai ranking 17 dan 24 dalam tes PISA, sedangkan siswa Shanghai China ranking 1, Finlandia 2, dan Korea Selatan 3. Soal siswa di Shanghai China juara masih diragukan karena belum menggambarkan keadaan mutu seluruh pendidikan China. Kalau Finlandia sebagai negara kecil bisa juara mengapa negara kecil yang sudah established seperti Islandia, Norwegia, New Zealand tak bisa?

Akhirnya semua mengakui bahwa sistem pendidikan Finlandia yang terbaik di dunia karena kebijakan-kebijakan pendidikan konsisten selama lebih dari 40 tahun walau partai yang memerintah berganti. Secara umum kebijakan-kebijakan pendidikan China dan Korea Selatan (dan Singapura) juga konsisten dan hasilnya terlihat sekarang.

Kebijakan-kebijakan pendidikan Indonesia cenderung tentatif, suka coba-coba, dan sering berganti.
Lalu bagaimana dengan kebijakan pendidikan Indonesia jika dibandingkan dengan Finlandia?

1. Kita masih asyik memborbardir siswa dengan sekian banyak tes (ulangan harian, ulangan blok, ulangan mid-semester, ulangan umum / kenaikan kelas, dan ujian nasional). Finlandia menganut kebijakan mengurangi tes jadi sesedikit mungkin. Tak ada ujian nasional sampai siswa yang menyelesaikan pendidikan SMA mengikuti matriculation examination untuk masuk PT.

2. Kita masih getol menerapkan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) sehingga siswa yang gagal tes harus mengikuti tes remidial dan masih ada tinggal kelas. Sebaliknya, Finlandia menganut kebijakan automatic promotion, naik kelas otomatis. Guru siap membantu siswa yang tertinggal sehingga semua naik kelas.

3. Kita masih berpikir bahwa PR amat penting untuk membiasakan siswa disiplin belajar. Bahkan, di sekolah tertentu, tiada hari tanpa PR. Sebaliknya, di Finlandia PR masih bisa ditolerir tapi maksimum hanya menyita waktu setengah jam waktu anak belajar di rumah.

bosan-1

4. Kita masih pusing meningkatkan kualifikasi guru SD agar setara dengan S1, di Finlandia semua guru harus tamatan S2.

5. Kita masih menerima calon guru yang lulus dengan nilai pas-pasan, sedangkan di Finlandia the best ten lulusan universitas yang diterima menjadi guru.

6. Kita masih sibuk memaksa guru membuat silabus dan RPP mengikuti model dari Pusat dan memaksa guru memakai buku pelajaran BSE (Buku Sekolah Elektronik), di Finlandia para guru bebas memilih bentuk atau model persiapan mengajar dan memilih metode serta buku pelajaran sesuai dengan pertimbangannya.

7. Hanya segelintir guru di tanah air yang membuat proses belajar-mengajar itu menyenangkan (learning is fun) melalui penerapan belajar aktif. Terbanyak guru masih getol mengajar satu arah dengan metode ceramah amat dominan. Sedangkan, di Finlandia terbanyak guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan melalui implementasi belajar aktif dan para siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil. Motivasi intrinsik siswa adalah kata kunci keberhasilan dalam belajar.

Apakah benda ini melayang, terapung atau tenggelam?

8. Di tanah air kita terseret arus mengkotak-kotakkan siswa dalam kelas reguler dan kelas anak pintar, kelas anak lamban berbahasa Indonesia dan kelas bilingual (bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar) dan membuat pengkastaan sekolah (sekolah berstandar nasional, sekolah nasional plus, sekolah berstandar internasional, sekolah negeri yang dianakemaskan dan sekolah swasta yang dianaktirikan). Sebaliknya di Finlandia, tidak ada pengkotakan siswa dan pengkastaan sekolah. Sekolah swasta mendapatkan besaran dana yang sama dengan sekolah negeri.

9. Di Indonesia bahasa Inggris wajib diajarkan sejak kelas I SMP, di Finlandia bahasa Inggris mulai diajarkan dari kelas III SD. Alasan kebijakan ini adalah memenangkan persaingan ekonomi di Eropa, membuka kesempatan kerja lebih luas bagi lulusan, mengembangkan wawasan menghargai keanekaragaman kultural.

10. Di Indonesia siswa-siswa kita ke sekolah sebanyak 220 hari dalam setahun (termasuk negara yang menerapkan jumlah hari belajar efektif dalam setahun yang tertinggi di dunia). Sebaliknya, siswa-siswa Finlandia ke sekolah hanya sebanyak 190 hari dalam satu tahun. Jumlah hari liburnya 30 hari lebih banyak daripada di Indonesia. Kita masih menganut pandangan bahwa semakin sering ke sekolah anak makin pintar, mereka malah berpandangan semakin banyak hari libur anak makin pintar.

Kreativitas sinergiser

Bagaimana kita bisa menumbuhkembangkan kreativitas siswa jika guru membombardir mereka dengan ceramah, PR, tes, drill, dan terakhir nasibnya ditentukan hasil ujian nasional yang masih doyan bentuk soal pilihan ganda?

Sabtu, 17 Mei 2014

Beda Korea, Beda Pula INDONESIA

Sungai Han 

     Bagi para pecinta K-drama dan K-pop pasti sudah tidak asing jika kita menyebut sungai han. Sungai yang mengalir melalui ibukota Seoul ini memiliki peranan penting dalam sejarah Korea Selatan. Bahkan bisa dikatakan bahwa sungai ini adalah saksi bisu sejarah Korea selatan. Selain daripada itu, sungai ini juga merupakan tempat favorit para warga Korea yang putus asa untuk bunuh diri. Korea Selatan, negara yang merdeka tanggal 15 Agustus 1945, 2 hari sebelum Indonesia merdeka. Negara ini sungguh sangat miskin setelah perang saudara pada tahun 1950'an. Bahkan Sungai Han pada saat itu tidak sebagus yang sekarang. Namun apa yang menyebabkan Korea Selatan menjadi Negara Ekonomi terbesar ke-12? 
     Perkembangan pesat Korsel dimulai sekitar tahun 1960-1980'an. Korsel yang sebelumnya berada jauh dibawah Malaysia mulai bangkit dan bekerja keras kala perekonomian Malaysia sedang berada dalam ketidakstabilan. Pada saat itu PNB Korsel meningkat 8 % pertahunnya. Rasio pendapatan domestik meningkat dari 3,3 % pada tahun 1962 menjadi 35,8 % pada tahun 1989. Faktor paling signifikan dalam industrialisasi yang sangat pesat tersebut adalah perencanaan strategi ekonomi tahun 1960-an yang berfokus pada ekspor manufaktur dengan angkatan kerja intensif. Pada awal tahun 1980-an, guna mengendalikan inflasi, sebuah kebijakan moneter konservatif dan undang-undang fiskal dikeluarkan. Pertumbuhan alokasi dana dikurangi dari level 30 % pada tahun 1970-an menjadi 15 %.
     Diakhir 1990an-2000, Korsel mulai menggunakan High-tech. Dalam tahun-tahun belakangan, model ekonomi Korea Selatan mulai beralih dari perencanaan terpusat serta investasi dari pemerintah ke arah ekonomi yang berorientasi pasar. Bangkit dari kejatuhan ekonomi pada Krisis Finansial Asia tahun 1997, Korea Selatan meluncurkan kebijakan-kebijakan finasial untuk menstabilkan pasar. Pertumbuhan ekonomi yang sempat terpuruk dari 6,6 % pada tahun 1998, naik perlahan menjadi 10,8 % pada tahun 1999 dan 9,2 % pada 2000.
     Korsel mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat. Industrialisasi, pencapaian teknologi, urbanisasi, pembangunan gedung-gedung pencakar langit, modernisasi, globalisasi, dan kebangkitan teknologi merupakan puing-puing perang Korea, penjajahan Jepang dan Perang dunia II. 

     Beda Korea, beda pula Indonesia. Negeri dengan kekayaan alam yang super duper mencengangkan. Luas negara yang membentang dari sabang sampai merauke. Iklim yang hangat dengan miliyaran tumbuhan. Mari kita berjalan menuju ibukota negara ini, Jakarta.

Bundaran HI di malam hari

     Jakarta, ibukota negara Indonesia yang memiliki nama lahir Sunda Kelapa ini berulang tahun setiap tanggal 22 Juni. Berusia lebih dari 4 abad harusnya membuat ibukota kita semakin maju dan paling tidak sejajar dengan Seoul, mengingat kemerdekaan kedua negara hanya selisih dua hari. Namun, beda tanggal kemerdekaannya, beda ibukotanya, beda pula sungainya dan perekonomiannya. 

Sungai Ciliwung

     Jika Seoul memiliki sungai Han, maka Jakarta memiliki sungai Ciliwung. Tampak jelas ketidakteraturan ibukota disini. Bantaran sungai yang harusnya terlihat asri justru dihias rumah-rumah kumuh. Sejak zaman penjajahan Belanda sampai Indonesia merdeka, masalah banjir adalah masalah klasik ibukota. Namun sangat lucu jika di era modern ini Ibukota dikatakan akan tenggelam. Siapa yang membuat banjir semakin parah? Tidak lain dan tidak bukan adalah manusianya sendiri. Jangan salahkan hujan yang turun berhari-hari. Hei manusia, bukankah Tuhan menurunkan hujan agar tanah yang kering ini bisa tumbuhi tanaman untuk kalian makan? 
     Manusia yang sangat egois membuang sampah, membangun rumah, dan melakukan kegiatan ekonomi disembarang tempat telah membuat daerah resapan air beralih fungsi. Hujan yang harusnya bisa diserap tanah ataupun ditampung ke sungai kini sudah beralih menggenang dipemukiman masyarakat. Masyarakat yang demikian kemudian menyalahkan segala kesalahan pada pemerintah. "Katanya kalo kita milih dia jadi gubernur, udah gak bakal banjir lagi, tapi mana buktinya? Sekarang malah nyalon jadi presiden" -seorang siswa seminar tata ruang- (16/5/2014). 
     Bukan berpihak pada siapapun, tapi sebenarnya peran masyarakan disini juga dibutuhkan. Apa mungkin pembangunan terjadi dengan lancar jika antara pemerintah dan masyarakat tidak bekerja sama? Seperti yang dibahas sebelumnya, bahwa warga Korsel dan pemerintahnya bahu-membahu membangun Korea Selatan yang modern dan lebih maju. Itulah yang harus dilakukan antara pihak pemerintah dan masyarat baik di Jakarta maupun di seluruh Indonesia. Jangan merasa "gue kan bukan pejabat, ngapain amat gue capek-capek bersihin jalanan yang bukan punya gue". Kita lahir dan besar dinegeri ini, maka negeri ini adalah milik kita. Karena itu, biar bagaimana pun jika kita ingin Indonesia yang maju, kitalah yang harus melakukannya. 
     Seorang pelajar pecinta Kpop pernah berkata, "Gue sih mendingan tinggal di Seoul, apaan tuh Indonesia? Di Korea mana ada bus tua yang masih dipake?". Pikiran seperti ini yang harus dihindari, terutama bagi para remaja yang cara pikirnya masih belum stabil. Tidak salah jika kita mengidolakan suatu aliran musik dari luar negara, karena jujur saya pun suka Kpop. Tapi jangan sampai perasaan berbangsa dan bernegara ini hilang dari diri kita. Tidak salah jika kita iri akan keberhasilan suatu negara, tapi rasa iri ini harus membuat kita berpikir bagaimana cara membuat negara kita lebih baik dari negara yang membuat kita iri tersebut. Bukan malah ingin menjadi warga negara dari negeri yang membuat kita iri. Terlebih peluang menjadi negara adidaya lebih kita miliki dari pada Korea Selatan.

Berjuang bersama membangun bangsa, bersaing dengan sehat dan nikmati Indonesia yang indah dimasa depan :)